Home / Bisnis / Dianggap Unik, Bunga Sepe Jadi Motif Tenun Ikat Kota Kupang

Dianggap Unik, Bunga Sepe Jadi Motif Tenun Ikat Kota Kupang

147 Kali dibaca
Ketua Dekranasda Kota Kupang, Ny. Hilda Riwu Kore- Manafe mengalungkan seledang kepada Kepala Kanwil Kemenkumham NTT, Marciana D. Jone pada acara penyerahan Surat Pencatatan Ciptaan bernomor 000209238 berlangsung di lantai dua Kantor Wali Kota Kupang, Selasa (9/3/2021).

Bagikan Halaman ini

Kupang, suara flobamora.com— Ketua Dekranasda Kota Kupang, Ny. Hilda Riwu Kore-Manafe selaku pencipta motif tenun ikat sepe mengungkapkan awal dirinya terinspirasi dari bunga flamboyan atau sepe yang dianggapnya unik.

“Sepe merupakan bunga yang mempunyai keunikan tersendiri karena bunga sepe hadir di Kota Kupang hanya pada September hingga Desember yang menggambarkan Natal akan tiba,” ungkap Hilda pada acara seremonial penyerahan Surat Pencatatan Ciptaan bernomor 000209238 berlangsung di lantai dua Kantor Wali Kota Kupang, Selasa (9/3/2021).

Ia mengisahkan ikhwal dirinya menjadikan motif bunga sepe menjadi ciri khas tenunan Kota Kupang. Karena sejak menjabat sebagai ketua Dekranasda, dirinya melihat daerah atau kabupaten lainnya di NTT memiliki tenunan khas sendiri lengkap dengan aksesorisnya sedangkan Kota Kupang belum ada.

“Dari situ saya terinspirasi bahwa kita harus punya motif khas kota yang tepat dan kita lihat di sini banyak sekali sepe yang mengingatkan natal sudah dekat, unik sekali, itu yang menginsiprasi sepe menjadi ikon Kota Kupang,” terang Hilda.

Ia mendaku, tidaklah mudah untuk mewujudkan hal tersebut. Kesulitan yang ditemui oleh karena dibutuhkan ketelitian, kecermatan dan teknik menenun dari para penenun.

“Berbagai percobaan dan usaha yang terus dilakukan untuk mendapatkan bentuk design yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk tenunan, akhirnya kami menemukan mama-mama penenun di Kelurahan Penkase yang bisa menghasilkan tenunan yang cantik, indah serta dipadu dengan warna-warna lembut yang berasal dari tumbuhan alami yang ada di sekitar wilayah Kota Kupang,” papar Hilda.

Saat ini para mama penenun telah menghasilkan tenunan dengan jenis tenun ikat, buna dan sotis berupa selendang, pashmina, sarung dan selimut. Selain itu, untuk melengkapi tenunan sepe, pihaknya juga membuat berbagai aksesoris dari bahan-bahan lokal yaitu tulang, kayu dan batu akik.

“Jadi nanti kami akan melegalkan itu semua lewat proses pendaftaran kekayaan intelektual,” kata Hilda.

Selaku Ketua Dekranasda Kota Kupang, ia menyampaikan terima kasih kepada Kanwil Kemenkumham Provinsi NTT yang telah membantu proses hak cipta sehingga bisa memperoleh sertifikat Surat Pencatatan Ciptaan yang mempunyai jangka waktu perlindungan Hak Cipta selama 50 tahun dan berharap kerja sama ini terus berlanjut. Ucapan terima kasih juga kepada Kepala BI Perwakilan NTT, Bank NTT yang ikut mempromosikan hasil tenun sepe dan bantuan berupa pembangunan galeri di Penkase.

Sekretaris Daerah Kota Kupang, Fahrensy P. Funay mengungkapkan rasa bangganya dan menyambut baik atas pencapaian dari Dekranasda Kota Kupang, dimana Kota Kupang akhirnya memiliki tenun ikat motif sepe. Motif tenun ikat sepe ini memiliki filosofi yang mewakili daerah Kota Kupang karena sepe erat dengan makna kasih sesuai motto Kota Kupang dan ciri khas tanaman sepe yang tumbuh subur serta berbunga mulai bulan-bulan menjelang perayaan Natal umat Kristiani.

“Motif ini akan menjadi ikon baru kebanggaan milik masyarakat Kota Kupang, yang sekian lama menjadi kerinduan masyarakat Kota Kupang,” kata Fahrensy.

Dirinya optimis, motif tenun ikat sepe ini akan menjadi daya tarik tersendiri yang melengkapi pesona daerah Kota Kupang bagi peningkatan sektor pariwisata.

“Motif sepe ini akan memiliki nilai tersendiri dan tampil sejajar dengan motif-motif tenun ikat khas daerah NTT lainnya,” ucapFahrensy.

Ia berjanji , Pemkot Kupang akan terus mendorong dan mendukung ide dan kreativitas Ketua Dekranasda karena selaras dengan visi dan misi Kota Kupang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi kreatif dan industri pariwisata berbasis komunitas masyarakat, lebih khusus kelompok pengrajin tenun ikat dibawah binaan Dekranasda.

Diharapkan, dengan terdaftarnya hak cipta motif tenun ikat sepe ini, dapat menggugah dan mempelopori kreativitas bernilai seni, baik tradisional maupun modern lainnya yang bernilai ekonomis dan dapat menjadi kebanggaan bahkan ikon Kota Kupang, tanpa mengabaikan sejarah dan tradisi yang sudah ada dan terus dilestarikan.//sf (**/gusto)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini