Home / Kesehatan / Pemkot Kupang Siapkan Manulai II Jadi Tempat Relokasi Warga

Pemkot Kupang Siapkan Manulai II Jadi Tempat Relokasi Warga

170 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

Kupang, suara flobamora.com— Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang, menyiapkan wilayah Manulai II, Kecamatan Alak sebagai lahan yang akan dijadikan untuk relokasi warga terdampak badai tropis seroja.

Informasi ini disampaikan Wali Kota Kupang, Jefri Riwu Kore saat mendampingi Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat melakukan peninjauan terhadap korban badai seroja di wilayah Kota Kupang, Senin (12/4/2021).

Ia berjanji secepatnya membereskan status tanah untuk ditempatkan warga korban badai seroja yang rumahnya tidak bisa ditempati lagi. Pihaknya siap berkoordinasi dengan semua pihak yang terkait pengurusan kepastian kepemilikan tanah.

Bahkan untuk kepentingan dimaksud, dirinya telah melakukan pertemuan dengan para camat dan lurah dan menginstruksikan untuk segera menginventarisasi tanah milik pemkot yang masih kosong dan bisa dimanfaatkan.

“Pemkot akan segera membereskan urusan administrasi terkait tanah tersebut untuk segera dilaporkan kepada pemerintah pusat,” kata Jefri.

Dari data yang telah dihimpun petugas di lapangan, saat ini tercatat kurang lebih 475 warga terdampak badai seroja yang harus direlokasi.

Gubernur NTT, Viktor Laiskodat menyampaikan, untuk warga yang rumahnya rusak berat dan tidak dapat digunakan lagi, warga diminta kesediaan untuk direlokasi di lahan yang sedang disiapkan Pemkot Kupang.

Untuk kepentingan relokasi, Pemkot Kupang akan menyiapkan lokasi kurang lebih lima hektar  relokasi. Karena itu Pemkot Kupang diminta untuk segera membereskan urusan tanah dimaksud.

“Rumah warga yang direlokasi itu akan dibangun dengan dana bantuan dari pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” papar Laiskodat.

Kepada para korban yang ditemui di tenda pengungsian, Laiskodat menyatakan, pemerintah akan segera menyalurkan bantuan material seperti seng, paku seng dan kayu untuk perbaikan rumah warga yang masuk kategori rusak ringan dan sedang.

Untuk mencegah penyebaran covid-19 yang masih mengancam, ia menyarankan sebaiknya warga tidak dikumpulkan terpusat di kamp pengungsian, tetapi disebar ke rumah-rumah warga yang bersedia menampung mereka.

Pihak BNPB akan menyiapkan anggaran sewa rumah kurang lebih Rp500.000 per bulan sambil menunggu relokasi.

Pada kesempatan itu Laiskodat mengapresiasi Dinas Kesehatan Kota Kupang yang sejak awal pasca bencana telah melakukan rapid antigen kepada para pengungsi di kamp-kamp pengungsian.

Jika perlu rapid antigen dilanjutkan dengan tes PCR kepada semua korban yang ada di lokasi pengungsian untuk mengantisipasi penyebaran covid-19.

Tempat yang dikunjungi Laiskodat dan Jefri bersama rombongan adalah posko pengungsian korban longsor di RT 03, RW 01 Kelurahan Oebufu. Pada lokasi tersebut, kurang lebih 167 jiwa dari 34 kepala keluarga yang terdampak bencana badai seroja.

Sebagian besar rumah dalam kondisi rusak berat dan tidak dapat ditempati. Kondisi yang hampir sama juga terdapat di Kampung Amanuban, Kelurahan Oebufu.

Selain itu mengunjungi lokasi pengungsian di Gereja GMIT Kaisarea BTN di Kelurahan Kolhua, SD Inpres Labat, Kelurahan Bakunase II serta lokasi pengungsian di Gereja GMIT Eden Kisbaki, Kelurahan Manutapen.

Rombongan juga berkesempatan meninjau langsung lokasi bencana di RT 09 RW 03 Kelurahan Manutapen, yang sebagian besar rumah warganya rusak berat akibat tertimpah pohon./sf (**/gusto)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini