Home / KKN / Pasarkan Produk UMKM ke Pasar Internasional, Bank NTT Luncurkan Aplikasi Go NTT

Pasarkan Produk UMKM ke Pasar Internasional, Bank NTT Luncurkan Aplikasi Go NTT

67 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

Kupang, Suara Flobamora.Com – Bank NTT meluncurkan Aplikasi Gerbang Online Nusa Tenggara Timur (Go NTT) untuk membantu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam memasarkan produk-produknya ke pasar lokal, nasional dan internasional.

Demikian disampaikan Dirut Bank NTT, Aleks Riwu Kaho saat jumpa pers di bilangan Kota Kupang pada Jumat (25/06/2021).

“Aplikasi Go NTT menampung produk lokal unggulan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) NTT dan membantu memasarkan produk lokal unggulan UMKM NTT secara luas, tidak saja lokal, tetapi nasional bahkan internasional (online market, red). Melalui aplikasi yang telah dilaunching Bank NTT, para customer atau konsumen dapat membeli produk lokal unggulan UMKM NTT secara online,” jelasnya.

Menurut Aleks, aplikasi Go NTT menghubungkan para pembeli dan UMKM yang menjual produk-produk unggulannya.
“Para obsteker juga telah berkomitmen untuk membeli produk lokal NTT untuk dipasarkan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui aplikasi Go NTT juga mempromosikan produk lokal Nusa Tenggara Timur secara global melalui market place secara online,” jelasnya.

UMKM binaan Bank NTT, lanjut Aleks, terlebih dahulu akan dibina dalam hal produksi sebelum masuk pasar online sehingga bisa bertahan dan berdaya saing. “Untuk itu, Bank NTT bekerjasama dengan Depkumham (Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia) untuk perlindungan hukum, Hak Intelektual (HAKI), Hak Merk, Hak Paten, Indikasi Geogragis, termasuk produk-produk tenun,” jelasnya.

Selain itu, kata Aleks, Bank NTT juga mewajibkan produk UMKM binaan Bank NTT masuk sertifikasi BP-POM dan SNI. “Sehingga untuk segmentasi produk tertentu, ada standar pasar yang dipenuhi,” ujarnya.

Dengan begitu, lanjutnya, calon pembeli bisa yakin untuk membeli (produk lokal NTT, red) karena memenuhi standar layak konsumsi. “Ini hal yang penting karena begitu produk lokal unggulan UMKM NTT masuk pasar dan dituntut dengan syarat tertentu, produk-produk tersebut mampu bersaing,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, Aleks menjelaskan bahwa dari aspek produksi, pihaknya sudah menghubungi beberapa pihak untuk melatih teknis fotografi dan kemasan produk. “Kemasan produk dibuat menarik, sehingga ketika produknya masuk ke online (online market Go NTT, red), memiliki daya tarik dan daya saing serta daya jual. Gerbang Online ini menjadi pintu market bagi UMKM kita,” tandasnya.

Jadi, lanjut Diriut Aleks, ada ekosistem yang harus dibangun Bank NTT melalui aplikasi Go NTT. “Bukan hanya bank yang berperan, tapi juga lembaga pemerintah melalui penyuluhan-penyuluhan. Selain itu, model ekosistem pemberdayaan harus dilakukan agar para pelaku UMKM di NTT bisa mandiri,” harapnya.

Go NTT, kata Aleks, juga melibatkan para akademisi. “Diharapkan para akademisi dapat melakukan riset yang dapat membantu meningkatkan ekonomi dan produksi. Itu yang sedang kita usahakan,” harapnya.

Dirut Bank NTT itu menambahkan, berdasarkan hasil festival desa binaan Bank NTT dan kunjungan pihaknya ke desa-desa, ternyata banyak potensi yang belum digarap secara optimal. “Setelah turun ke desa-desa binaan dan melihat potensi-potensi yang ada, ternyata potensi yang ada pada para pelaku usaha di desa dapat digunakan untuk menumbuhkan daya saing, daya tumbuh dan daya tahan ekonomi (produk-produk lokal unggulan, red),” ujarnya optimis.

Karena itu pihaknya berusaha memfasilitasi para pelaku UMKM untuk memasarkan produk unggulannya melalui aplikasi Go NTT. “Nah, daya tumbuh dan daya saing ini perlu pasar dan obsteker, sehingga selain dipasarkan secara tradisional atau offline, kita (bank NTT, red) juga fasilitasi mereka (pelaku UMKM di desa, red) untuk masuk ke pasar online dan karena itu kita buatkan webnya (Aplikasi Go NTT, red),” jelasnya.

Menurut Riwu Kaho, ternyata produk lokal unggulan UMKM di NTT adalah produk-produk unggulan di pasaran. “Coba kita turun ke Manggarai Timur. Di sana ada kopi Colol. Ternyata kopi ini punya cita rasa yang luar biasa,” ujarnya.

Di Colol, lanjutnya, konsumen juga bisa menggali asal muasal kopi Colol.  “Itu bisa jadi agrowisata di sana. Jadi dari potensi-potensi tersebut kita bisa kembangkan suatu model usaha yang kreatif. Tidak hanya produk kopi, tetapi kita bisa arahkan ke agrowisata,” bebernya.

Misalnya, lanjut Aleks, para wisatawan bisa belajar budaya tanam kopi, cara merawat dan cara panen hingga pengemasannya di Colol. “Ada informasi dan pengetahuan tentang farian kopi Colol. Ada empat farian kopi Colol yakni farian Juria, Colombia, Arabika, dan Torabika. Itu luar biasanya kopi Colol,”  beber Aleks..

Daerah potensial lainnya, lanjut, Dirut Bank NTT tersebut, adalah Detusoko Kabupaten Ende. Di sana ditemukan potensi pariwisata yang luar biasa dengan SDM (SUmber Daya Manusia) yang juga luar biasa. “Di sana (Detusoko) ada kombinasi antara wisata budaya, adat dan agrowisata,” ujarnya.

Menurutnya, tempat-tempat di Detusoko ditata dengan baik dan dituliskan cerita narasinya dengan baik. “Cerita yang bernilai sejarah dan budaya sehingga menarik dan wajib dilestarikan. Ini yang akan kita masukan ke web (Aplikasi Go NTT, red) sehingga dipasarkan secara luas,” imbuhnya.

Diakhir penjelasannya, Aleks Riwu Kaho pun mengharapkan adanya peran media dalam sosialisasi aplikasi Go NTT. “Jadi kita butuh informasi produk lokal unggulan, ya tidak susah. Bank NTT juga sedang mengupayakan kerjasama dengan google sehingga ketika klik NTT, maka yang keluar pertama itu pariwisata NTT serta produk lokal unggulannya,” bebernya lagi. (sf/tim)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini