Home / Bisnis / Dirut Bank NTT: Perlu Penerapan Konsep Pentahelix Dalam Pengembangan Desa Wisata

Dirut Bank NTT: Perlu Penerapan Konsep Pentahelix Dalam Pengembangan Desa Wisata

39 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

Labuan Bajo, Suara Flobamora.Com
Pengembangan Desa Wisata di NTT perlu dilakukan dengan konsep pentahelix alias melibatkan multi pihak/multi stakeholders agar pelaku usaha mendapatkan kemudahan berusaha dan akses pembiayaan bank.

Demikian dikatakan Direktur Umum (Dirut) Bank NTT, Alexander Riwu Kaho yang tampil ‘bersinar’ alias memukau saat membawakan materi tentang Pemanfaatan Akses Pembiayaan Bank NTT untuk Pengembangan Desa Wisata NTT dalam Forum Diskusi Fasilitasi Akses Pembiayaan Bank NTT yang berlangsung di Hotel Jayakarta, Labuan Bajo, Kabuaten Manggarai Barat pada Senin (28/6/2021).

Dalam forum tersebut, Aleks membeberkan sejumlah upaya konkrit penerapan konsep Pentahelix yang telah dilakukan Bank NTT dalam pengembangan Desa Wisata. Antara lain dengan menyelenggarakan Festival Desa Binaan.

“Festival ini sebagai strategi merangsang pergerakan ekonomi, yang tidak saja menampilkan atraksi budaya, tetapi suplay change di wilayah destinasi yang ada. Semuanya dikemas dalam sistem paket dengan harga tertentu yang akan menjadi sumber income bagi pengelola dan berkontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD),” paparnya.

Menurut Aleks, salah satu syaratnya dalam vestifal itu adalah desa peserta adalah member digital Bank NTT. “Di sana ada aplikasi M-Banking Bank NTT dengan kanal-kanal transaksi pembelian dan pembayaran,” ulasnya.

Ia menjelaskan, Bank NTT melakukan Pengembangan Desa Wisata dengan melibatkan multipihak/stakeholders yakni unsur pemerintah, akademisi, badan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, dan media bersatu padu berkoordinasi serta berkomitmen untuk mengembangkan potensi lokal desa dan kawasan pedesaan.

Menurut Aleks Riwu Kaho, konsep pentahelix akan menjadi kekuatan bersama unsur dimaksud dalam membangun fasilitas akses pembiayaan. “Pertama, unsur pemerintah, hadir untuk memberikan pendampingan dan regulasi termasuk pihak-pihak yang mengatur regulasi akses pembiayaan,” ujarnya.

Point ke dua, lanjutnya, pelibatan akademisi supaya arah dan langkah kita terhadap fasilitasi akses pembiayaan bisa menciptakan ekosistem yang menjamin sustainable dari usaha-usaha yang dikerjakan. “Dibutuhkan riset agar para pelaku usaha kita mampu menciptakan nilai beda, nilai unggul, daya saing dan daya jual,” jelas Aleks.

Ketiga, papar Aleks, masyarakat atau pelaku usaha yang membutuhkan kemudahan regulasi dalam mencari akses pembiayaan ke pihak perbankan atau lembaga jasa keuangan sesuai kebutuhan. “Bukan sebaliknya regulasi yang rumit sehingga menutup akses bagi pelaku usaha,” ujarnya.

Poin ke empat, kata Aleks, adalah media/sarana teknologi digital yang membantu pengelolaan atau pengembangan potensi lokal yang ada di desa (komunitas masyarakat, red). Termasuk produk-produk yang dihasilkan.

“Mau atau tidak, saat ini kita sudah masuk pada era 5.0 (five poin o), super smart society dimana dengan adanya digitalisasi merubah semua pola perilaku dalam kehidupan kemasyarakatan, bisnis dan social. Karena itu, Bank NTT terus berusaha untuk berperan sehingga dengan bersama-sama masyarakat, pemerintah, akademisi menyiapkan stakeholder di NTT memasuki era 5.0,” jelasnya.

Menurut Aleks, saat ini telah hadir Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah di NTT“Kita bersyukur karena sudah hadir di NTT tim percepatan akses keuangan daerah. Tim ini terdiri dari berbagai stakeholders; baik itu pemerintah, swasta, akademisi, komunitas ataupun masyarakat,” bebernya.

Dalam kesempatan itu Aleks berharap, di tanggal 17 Juli 2021 nanti, Bank NTT akan me-launching aplikasi mobile yang baru. “Aplikasi mobile ini sudah ada super aps, belanja online, tarik tunai tanpa kartu, bisa mengajukan pinjaman dengan plafond tertentu, backup setoran dan 14 aktivitas lainnya,” paparnya.

Dari aspek digital, lanjut Aleks Riwu Kaho, Bank NTT menciptakan aplikasi Gerbang Online NTT atau Go NTT yang bisa diakses oleh semua orang. Melalui aplikasi ini, para pelaku usaha (pelaku UMKM Lokal NTT, red) diedukasi untuk dapat memasarkan berbagai produk unggulan yang dihasilkan secara mudah dan cepat.

“Dibutuhkan harmonisasi empat komponen ini sehingga bisa bertumbuh secara bersama-sama dan merasakan manfaatnya secara bersama-sama pula,” tandasnya.

Tidak hanya itu, kata Riwu Kaho, di bidang UMKM, Bank NTT bekerjasama dengan Pemprov NTT dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menghadirkan Skim kredit yang diberinama Kredit Merdeka. Skim kredit ini diberinama Merdeka karena tujuannya ialah memerdekakan pelaku usaha dari agunan, bunga dan rentenir.

“Kredit Merdeka merupakan terjemahan konkrit dari mimpi Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) untuk membangkitkan semangat sektor UMKM di NTT,” ucapnya.

Selain Aleks Riwu Kaho, tampil dalam forum tersebut sejumlah narasumber yakni Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf/Baparekraf, Fadjar Hutomo mewakili Menteri Parekraf, Prof. Daniel Kameo mewakili Gubernur VBL sebagai keynote speach, Anugrah Nanda Wijaya dari LinkAja, Shana Fatina selaku Direktur Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo serta sejumlah narasumber lain.

Forum itu terlaksana dalam rangka memfasilitasi pelaku usaha Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mendapatkan informasi metode pembayaran digital nirsentuh serta sistem pembiayaan perbankan dan sekaligus untuk memberikan pemahaman konsep mengelola Desa Wisata kepada stakeholder Desa Wisata. (sf/tim)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini