Home / Pertanian / Budidaya Kelor, Dekranasda NTT Gandeng Lapas Klas IIA

Budidaya Kelor, Dekranasda NTT Gandeng Lapas Klas IIA

22 Kali dibaca

Bagikan Halaman ini

Kota Kupang, Suara Flobamora.Com – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT menggandeng warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Kupang untuk melakukan budidaya Kelor di lahan sekitar 5 Ha milik Lapas tersebut.

Hal itu disepakati dalam acara sosialisasi tentang manfaat kelor oleh Ketua PKK NTT, Julie Soetrisno Laiskodat dan Wakil Ketua PKK NTT, Maria Djogo di Lapas Klas IIA Kupang, Senin (6/9/21).

Ketua PKK NTT yang juga Ketua Dekranasda NTT, Julie Soetrisno Laiskodat dalam acara sosialisasi tersebut mengatakan, Dekranasda NTT menggandeng Lapas Klas IIA Kupang untuk memberdayakan warga binaan untuk tetap produktif walaupun dalam masa menjalani hukuman. “Selain UMKM, kita ingin memberdayakan warga binaan untuk tetap produktif,” ujarnya.

Julie menjelaskan, pihaknya akan mendatangkan tenaga pendamping untuk membimbing warga binaan dalam budidaya Kelor. “Saya ingin buat kebun kelor bukan hutan kelir. Jadi di tanam secara teratur. Nanti kita datangkan ahli dari politeknik untuk membimbing. Kita juga sudah datangkan benih kelor berkualitas dunia dari Pulau Solor, Flores Timur,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Julie, Dekranasda NTT akan mengadakan mesin pengering daun kelor untuk Lapas Klas IIA Kupang. “Setelah bibit disemai sekitar 2 Minggu di polibag, akan ditanam. Setelah 3 bulan sudah tumbuh, Dekranasda akan datangkan mesin pengering kelor,” ucapnya.

Nanti, lanjutnya, dari Dapoer Kelor yang akan datang melatih warga binaan. “Hasilnya akan dibeli oleh Dapoer Kelor untuk dibuat berbagai produk, seperti teh kelor,” jelasnya.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Klas IIA Kupang, Badarudin pada acara tersebut memberikan apresiasi kepada Dekranasda NTT yang ikut terlibat memberdayakan warga binaannya dalam budidaya Kelor. “Kami berterimakasih karena sudah memberdayakan warga binaan kami. Apalagi nanti ada pelatihan-pelatihan bagi mereka sehingga bisa menjadi bekal keterampilan bagi mereka,” katanya.

Menurut Kalapas, pihaknya akan menyiapkan lahan sekitar 5 hektar untuk menanam kelor. “Lahan milik Lapas ada sekitar 40 hektar. Yang dipakai untuk bangunan hanya sekitar 4 hektar. Sisanya, 30 lebih hektar adalah lahan tidur. Sebagian bercampur batu karang,” ujarnya.

Menurut Badarudin, ada lahan yang tidak produktif dan sudah lama tidak ditanami. “Kita akan tanam kelor disitu karena kelor bisa ditanam dimana saja. Luasnya sekitar 5 hektar. Bisa lebih,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Depkumham) NTT, Merciana D. Jone pada kesempatan itu memberikan apresiasi kepada Dekranasda NTT yang bersedia menggandeng Lapas Klas IIA Kupang dan memberdayakan warga binaan Lapas Klas IIA Kupang.

“Kami berterima kasih Kepada Ketua Dekranasda dan Wakil Ketua yang mau melibatkan warga binaan dalam budidaya Kelor. Warga binaan akan didampingi oleh instruktur yang disiapkan Dekranasda sampai benar-benar terampil,” ujarnya.

Kakanwil yang akrab disapa Mercy, berharap warga binaan dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bisa terampil dalam budidaya dan mengolah daun kelor. “Kalau sudah terampil dan bisa produksi olahan kelor, seperti teh kelor. Kami ingin punya Brand atau merek sendiri Bunda Julie,” ujarnya optimis. (sf/ian)

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini