KUPANG, SUARAFLOBAMORA.COM — Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan RUPS
Luar Biasa Bank NTT pada Minggu (24/05/2026) yang berlangsung hingga malam hari, tidak sekadar menjadi
agenda rutin korporasi. Di balik keputusan penambahan modal dan restrukturisasi
direksi, tersimpan pesan kuat bahwa bank milik daerah itu sedang berupaya keluar
dari tekanan tata kelola, kepercayaan publik, dan tuntutan transformasi bisnis
yang makin besar.
Dalam rapat yang dihadiri seluruh kepala daerah pemegang saham
bersama mitra strategis Bank Jatim itu, para pemegang saham menyepakati tambahan
penyertaan modal sekitar Rp60 miliar lebih serta perubahan struktur manajemen
Bank NTT sesuai rekomendasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pemerintah Provinsi
NTT menyuntik tambahan modal Rp30 miliar, Kabupaten Malaka Rp5 miliar, dan
Kabupaten Alor Rp3 miliar. Tambahan modal dari sejumlah daerah lain disebut
masih dalam proses penyesuaian. Namun, substansi terpenting dari RUPS kali ini
bukan semata angka penyertaan modal, melainkan upaya menyelamatkan daya saing
Bank NTT di tengah tantangan perbankan daerah yang semakin ketat.
Gubernur NTT
Melki Laka Lena mengakui pembahasan dalam rapat berlangsung mendalam, termasuk
menguliti kondisi internal bank, pengembangan aset, hingga strategi bisnis ke
depan. “Diskusinya sangat bagus. Kami mengecek satu per satu parameter Bank NTT,
baik dari sisi aset, pengembangan bisnis, hingga strategi ke depan. Kepala
daerah jadi semakin memahami isi perut perbankan,” kata Melki usai rapat.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa para pemegang saham mulai menyadari persoalan
mendasar Bank NTT bukan hanya soal laba dan dividen, tetapi juga efektivitas
pengelolaan lembaga keuangan daerah yang selama ini menjadi tulang punggung
transaksi pemerintah daerah di NTT.
Dalam RUPS Tahunan, laporan
pertanggungjawaban direksi dan komisaris diterima pemegang saham. Pembagian
dividen juga diputuskan tetap seperti tahun sebelumnya. Akan tetapi, rapat
memberi penekanan khusus agar Bank NTT tidak hanya berfungsi sebagai institusi
bisnis, melainkan juga instrumen pembangunan daerah.
Pemegang saham meminta
direksi dan komisaris mendukung program prioritas pemerintah provinsi maupun
kabupaten/kota. “Minimal ada satu program strategis di tiap kabupaten/kota yang
didukung Bank NTT,” ujar Melki.
Arahan itu memperlihatkan kuatnya ekspektasi
politik dan pembangunan yang dibebankan kepada Bank NTT. Di satu sisi, bank
daerah dituntut sehat dan kompetitif. Namun di sisi lain, ia juga didorong
menjadi alat intervensi pembangunan daerah.
Dalam RUPS Luar Biasa, pemegang
saham menyepakati restrukturisasi organisasi sesuai rekomendasi OJK. Jumlah
direksi yang sebelumnya direncanakan tujuh orang dikembalikan menjadi lima
direksi, sedangkan komisaris menjadi tiga orang. Langkah ini dinilai sebagai
upaya merampingkan struktur agar pengambilan keputusan lebih efektif dan
pengawasan lebih fokus. Salah satu keputusan paling strategis ialah penunjukan
pejabat Direktur Kepatuhan dari Bank Jatim, yang telah dinyatakan lolos uji OJK.
Kehadiran figur eksternal itu dinilai sebagai sinyal bahwa pemegang saham
membutuhkan penguatan tata kelola dan kepatuhan internal. “Beliau memiliki
pengalaman sekitar 30 tahun di dunia perbankan dan berasal dari Bank Jatim,”
kata Melki.
Masuknya figur dari luar Bank NTT juga dapat dibaca sebagai bentuk
pengakuan bahwa reformasi internal tidak cukup hanya mengandalkan pola lama dan
sumber daya internal. Selain itu, pemegang saham mengusulkan Rita sebagai calon
Komisaris Independen untuk melengkapi struktur pengawasan bank.
Meski demikian,
tantangan Bank NTT ke depan tidak ringan. Tambahan modal dan pergantian struktur
belum otomatis menjawab persoalan klasik bank daerah, seperti ketergantungan
pada dana pemerintah, ekspansi kredit produktif yang terbatas, hingga tuntutan
digitalisasi layanan.
Karena itu, dorongan agar Bank NTT lebih agresif
menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi bagian penting dari agenda
transformasi tersebut. Saat ini, Bank NTT memiliki plafon KUR sekitar Rp350
miliar, termasuk Rp50 miliar yang disiapkan khusus bagi pekerja migran asal NTT.
“Teman-teman pekerja migran silakan berkomunikasi dengan Bank NTT. Pelaku usaha
produktif yang selama ini sulit mengakses perbankan juga silakan memanfaatkan
fasilitas ini,” ujar Melki. ***//Hermen
